<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Perlukah pers Indonesia memiliki peer review?</title>
	<atom:link href="http://rethinks.wordpress.com/2008/03/02/perlukah-pers-indonesia-memiliki-peer-review/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rethinks.wordpress.com/2008/03/02/perlukah-pers-indonesia-memiliki-peer-review/</link>
	<description>Think &#124; Rethink &#124; Realize</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 Sep 2009 21:59:26 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: uwiuw</title>
		<link>http://rethinks.wordpress.com/2008/03/02/perlukah-pers-indonesia-memiliki-peer-review/#comment-28</link>
		<dc:creator>uwiuw</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Apr 2008 14:36:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://rethinks.wordpress.com/?p=41#comment-28</guid>
		<description>selan bersifat geenral, sy belum paham kegunaannya apa...tapi kalau memang akan memudahkan orang terjebak dalam polemik maka sy mendukung banget!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>selan bersifat geenral, sy belum paham kegunaannya apa&#8230;tapi kalau memang akan memudahkan orang terjebak dalam polemik maka sy mendukung banget!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: atakeo</title>
		<link>http://rethinks.wordpress.com/2008/03/02/perlukah-pers-indonesia-memiliki-peer-review/#comment-23</link>
		<dc:creator>atakeo</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Mar 2008 04:17:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://rethinks.wordpress.com/?p=41#comment-23</guid>
		<description>Thank you for visiting my blog. I will be willingly to stop by at your blog later.  Salam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Thank you for visiting my blog. I will be willingly to stop by at your blog later.  Salam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: atakeo</title>
		<link>http://rethinks.wordpress.com/2008/03/02/perlukah-pers-indonesia-memiliki-peer-review/#comment-22</link>
		<dc:creator>atakeo</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Mar 2008 09:49:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://rethinks.wordpress.com/?p=41#comment-22</guid>
		<description>Salam jumpa. Saya lewati blok kamu gara-gara katamu di Padepokan Om Budi blokmu sepi.  Jelas loh Mas.. Kamu bermukim di blok kaum elite. Wong pilihan. Anak Dewa bisa sekolah Tinggi. Anda orang yang menghargai sepi untuk mendapat inspirasi tinggi.  Syukur saja. Tetapi  tahukah Mas piramida sama seperti bangunan mesjid. Kubah gemerlap di ujung sana. Yang paling dasar pasir dan batunya. Tidak segemerlap kubahnya.  Maukah Mas orat oret buat orang bawah. Mereka bersyukur dalam ketiadaan.
Maju terus mas. Mungkin buat Journal ilmiah saja. Kalau untuk masuk koran melewati  saringan sejawat yang pakar, mungkin koran  jadi bukan harian tetapi  Mingguan atau bahkan Journal Banyak Bulan.  Lalu kapan tayang?? Salam Mas.



&lt;blockquote&gt;Iya juga sih, saya cuman ingin mengekspresikan rasa prihatin saya terhadap masyarakat yang awam soal ilmu pengetahuan, setidaknya ini salah satu cara bagaimana saya mengekspresikannya, sambil berharap semakin hari, kualitas pers kita semakin bagus..

kasian pembaca, banyak diantaranya menelan mentah-mentah sumber informasi dari pers.

~salam kenal~&lt;/blockquote&gt;

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam jumpa. Saya lewati blok kamu gara-gara katamu di Padepokan Om Budi blokmu sepi.  Jelas loh Mas.. Kamu bermukim di blok kaum elite. Wong pilihan. Anak Dewa bisa sekolah Tinggi. Anda orang yang menghargai sepi untuk mendapat inspirasi tinggi.  Syukur saja. Tetapi  tahukah Mas piramida sama seperti bangunan mesjid. Kubah gemerlap di ujung sana. Yang paling dasar pasir dan batunya. Tidak segemerlap kubahnya.  Maukah Mas orat oret buat orang bawah. Mereka bersyukur dalam ketiadaan.<br />
Maju terus mas. Mungkin buat Journal ilmiah saja. Kalau untuk masuk koran melewati  saringan sejawat yang pakar, mungkin koran  jadi bukan harian tetapi  Mingguan atau bahkan Journal Banyak Bulan.  Lalu kapan tayang?? Salam Mas.</p>
<blockquote><p>Iya juga sih, saya cuman ingin mengekspresikan rasa prihatin saya terhadap masyarakat yang awam soal ilmu pengetahuan, setidaknya ini salah satu cara bagaimana saya mengekspresikannya, sambil berharap semakin hari, kualitas pers kita semakin bagus..</p>
<p>kasian pembaca, banyak diantaranya menelan mentah-mentah sumber informasi dari pers.</p>
<p>~salam kenal~</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sir Spitod</title>
		<link>http://rethinks.wordpress.com/2008/03/02/perlukah-pers-indonesia-memiliki-peer-review/#comment-20</link>
		<dc:creator>Sir Spitod</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 01:04:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://rethinks.wordpress.com/?p=41#comment-20</guid>
		<description>Ini ide bagus, sih. Tapi buat koran yang selalu kejar terbit setiap hari, cukup tidak ya, waktu dan juga biayanya..
Dan juga, kebanyakan artikel teknologi biasanya kan dibayar oleh perusahaan, biar produknya yang mendukung teknologi tersebut laku.
Mana mungkin dalam artikel mereka dibolehkan pembahasan tentang kelemahan teknologi tersebut?



&lt;blockquote&gt;Memang konsekuensinya berita yang diturunkan kuantitasnya berkurang, karena setiap artikel yang masuk mesti diperiksa dulu. Nah sekarang pilihannya kuantitas artikel.. atau kualitasnya. Majalah yang khusus membahas komputer sudah melakukan hal ini kok.. masih ingat uji produk di majalah CH*P kan?&lt;/blockquote&gt;

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ini ide bagus, sih. Tapi buat koran yang selalu kejar terbit setiap hari, cukup tidak ya, waktu dan juga biayanya..<br />
Dan juga, kebanyakan artikel teknologi biasanya kan dibayar oleh perusahaan, biar produknya yang mendukung teknologi tersebut laku.<br />
Mana mungkin dalam artikel mereka dibolehkan pembahasan tentang kelemahan teknologi tersebut?</p>
<blockquote><p>Memang konsekuensinya berita yang diturunkan kuantitasnya berkurang, karena setiap artikel yang masuk mesti diperiksa dulu. Nah sekarang pilihannya kuantitas artikel.. atau kualitasnya. Majalah yang khusus membahas komputer sudah melakukan hal ini kok.. masih ingat uji produk di majalah CH*P kan?</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
