jump to navigation

Indonesia, jangan menjadi besar February 17, 2008

Posted by Abdurahman in Quotes.
Tags: ,
trackback

Waktu browsing di kaskus, ada yang posting ini:

INDONESIA adalah bangsa besar.Tanda kebesarannya antara lain lapang
jiwanya, sangat suka mengalah, tidak lapar kemenangan dan keunggulan
atas bangsa lain, serta tidak tega melihat masyarakat lain kalah tingkat
kegembiraannya dibanding dirinya.


Dari lingkaran katulistiwa, Indonesia memiliki 12,5%, dan itu lebih dari
cukup untuk menguasai akses angkasa, satelit dan wilayah otoritas
politik maupun perekonomian informasi dan komunikasi. Kita adalah a big
boss industri teknologi informasi sedunia. Tapi kita sangat rendah hati
dan mengalah. Kita tidak tega kepada “negara kecamatan” bernama
Singapura,sehingga kekayaan kita itu kita sedekahkan kepada tetangga
kecil itu.

Keluasan teritorial dan kesuburan bumi maupun lautan,kekayaan perut
bumi,
tambang- tambang karun, keunggulan bakat manusia-manusia Indonesia,
pelajar-pelajar kelas Olimpiade, kenekatan hidup tanpa manajemen,
ideologi bonek, jumlah penduduk, kegilaan genetik dan antropologisnya,
dan berbagai macam kekayaan lain yang dimiliki oleh “penggalan sorga”
bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia-sungguh- sungguh merupakan
potensi yang tak tertandingi oleh negara dan bangsa mana pun di muka
bumi. Tetapi, sekali lagi, kita adalah bangsa yang lembut hati dan jauh
dari watak “raja tega”.

Kekayaan-kekayaan itu kita persilakan dikenduri oleh industri
multinasional dan orang-orang serakah: emas rojo brono diangkuti tiap
hari ke mancanegara. Dan itu bukan kekalahan, itu adalah kebesaran jiwa.
Kita bangsa yang kaya raya karena amat sangat disayang Tuhan sehingga
kita pesta sedekah dan infak. Rakyat kebanyakan ikhlas menderita karena
memilih surga dan toleran kepada sejumlah minoritas yang memang memilih
neraka.

Itu terkadang rakyat ikut rakus sedikit-sedikit, dengan pertimbangan tak
enak atau pekewuh kalau kita dari dunia langsung masuk surga tanpa
menengok saudara-saudara kita yang di neraka. Tak baiklah itu. Apa
salahnya kita mampir juga beberapa saat di neraka, ngerumpi dengan
handai tolan di sana. Pada suatu hari, TVRI, RRI, TNI, Polri, dan
berbagai mesin rumah tangga negara kita sewakan atau jual kepada
tetangga.

Berikutnya kita bercita-cita tak usah repot-repot menghabiskan ratusan
miliar untuk pemilihan presiden. Kita bisa mengontrak tokoh manajemen
dunia untuk memimpin negeri kita. Juga menteri-menteri kita kontrak dari
luar negeri, sebagaimana para pemain sepak bola. Dan puncaknya kelak,
MPR bisa mengambil keputusan untuk bikin proposal memohon kepada
Kerajaan Belanda agar berkenan memimpin kita lagi. Bangsa kita adalah
bangsa filosof. Kalau presiden kita kontrakkan dari Belanda atau
terserah negeri maju manapun kita persilakan memimpin, itu tidak berarti
kita berada di bawah mereka. Dalam teori demokrasi, rakyat selalu
tertinggi, presiden dan kabinet hanya orang yang kita upah dan harus
taat kepada kita.

Jadi, sesungguhnya bangsa Indonesia tetap di atas. Sebagaimana seorang
Imam salat diangkat oleh makmumnya, imam pada hakikatnya harus taat
kepada makmum. Yang memilih ditaati oleh yang dipilih, apalagi yang
dipilih itu digaji. Makmum yang memilih imam, tidak ada imam memilih
makmum. Sejak 200 tahun lalu, kekuatan bangsa Indonesia membuat dunia
miris. Maka perlahan-perlahan, terdesain atau tak sengaja terdapat
semacam perjanjian tak tertulis di kalangan kepemimpinan dunia di
berbagai bidang: jangan sampai Indonesia menjadi bangsa yang besar,
jangan sampai Indonesia menjadi negara yang maju.

Sebab potensi alam dan manusia tak bisa dilawan oleh siapa pun. Kalau
diberi peluang, masyarakat setan dan iblis pun kalah unggul dibanding
umat manusia Indonesia. Sedangkan orang Indonesia hidup iseng dan
sambilan saja dalam melakukan apa pun: setan-setan sudah semakin
terpinggirkan dan kehilangan pekerjaan. Kita pun sangat suportif kepada
kehendak dunia untuk mengerdilkan bangsa kita. Kita membantu sepenuh
hati upaya-upaya untuk mengerdilkan diri kita sendiri.

Sehari-hari, dalam pergaulan maupun dalam urusan-urusan konstelatif
tuktural, kita sangat rajin menghancurkan siapa pun yang menunjukkan
perilaku menuju kemungkinan mencapai kebesaran dan kemajuan bangsa
Indonesia.

Setiap orang unggul tak kita akui keunggulannya. Setiap orang hebat kita
cari buruknya. Setiap orang berbakat kita kipasi agar bekerja di luar
negeri. Setiap orang baik tak akan pernah kita percaya. Setiap orang
tulus kita siksa dengan kecurigaan. Setiap orang ikhlas kita santai
dengan fitnah.Setiap akan muncul pemimpin sejati, harus sesegera mungkin
kita bikin ranjau untuk menjebak dan menghancurkannya. Kita benar-benar
sudah hampir lulus menjadi bangsa yang besar. Dan puncak kebesaran kita
adalah kesediaan kita untuk menjadi kerdil.

EMHA AINUN NADJIB, Budayawan

Mudah-mudahan bisa menjadi renungan bersama.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: