jump to navigation

Perlukah pers Indonesia memiliki peer review? March 2, 2008

Posted by Abdurahman in Opinion.
Tags: , , , , ,
trackback

Saya sengaja memilih judul diatas, karena akhir-akhir ini nampaknya media kita seringkali menerbitkan informasi/berita yang ternyata ujung-ujungnya menjadi polemik di masyarakat. Hasilnya tentu saja beragam. Masyarakat yang mempunyai akses luas terhadap informasi bisa menelaah dan mencari tahu apakah informasi tersebut bisa dipercaya atau tidak. Bagaimana dengan masyarakat yang tidak memiliki akses luas terhadap informasi? bisa saja menelan mentah-mentah hal yang disajikan oleh pers kita. Bukan pencerdasan bangsa, malahan pembodohan massal!. Untuk itu saya menulis topik ini dengan harapan ada masukan dari pembaca sekalian terhadap informasi yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.

Sebenarnya istilah peer review(Bahasa: Penilaian Sejawat) itu digunakan untuk menilai, apakah artikel yang akan dimuat di jurnal/publikasi ilmiah layak untuk diterbitkan. Tentu saja, pada publikasi jurnal ilmiah internasional, makalah yang diterbitkan sudah melalui proses ini, sehingga kredibilitas dan validitas makalah tersebut bisa dipertanggungjawabkan.

Pada pembukaan UUD 1945 salah satu cita-cita nasional Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, pers adalah garis depan yang mengemban amanat tersebut, bersama-sama dengan guru, dosen, profesor, dan berbagai ahli yang memiliki kompetensi dibidangnya masing-masing. Namun sayangnya upaya pencerdasan kehidupan bangsa ini tidak sinkron di lapangan. Polemik tersebut hanya bisa dibaca oleh orang yang memiliki akses terhadap internet.
Berikut beberapa hal yang masih menjadi polemik(mungkin ada yang bisa membantu menambahkan):

Pembaca dapat melihat polemik tersebut apabila bergabung dengan forum kaskus, blognya Priyadi, Jay, dan berbagai macam forum/blog lain yang tersebar di internet.

Memang, kalau bicara soal kredibitas, saya sendiri masih bingung harus bicara apa, tapi di media tempat terjadinya polemik yang saya sebutkan juga memberikan argumen ilmiah yang cukup masuk akal menurut saya. Setidaknya saya memiliki sudut pandang lain dalam mencerna informasi yang diberikan oleh media mainstream, minimal, saya tidak menelan mentah-mentah informasi yang saya dapat.

Nah, tentang peer review sendiri, bagaimana seandainya pers kita melaksanakan hal tersebut. Tentu yang melakukan peer review tersebut anonim, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Misalnya, Media A, ingin menurunkan berita penemuan baru, kemudian media A, menghubungi 3 atau 4 orang yang dikenal memang memiliki kompetensi di bidang penemuan tersebut, kalau memang tidak layak-misalnya ternyata penemuannya tidak benar-benar baru- maka berita tersebut tidak jadi diturunkan. Sehingga kualitas informasi yang sudah turun dari media tersebut sudah sangat-sangat baik.

Saya tidak tahu apakah media kita sudah melakukan peer review tersebut, tentu saja mungkin berita yang disajikan agak terlambat menunggu hasil review tersebut. Namun kalau belum, saya rasa hal ini penting untuk dilakukan. Saya tidak tahu dengan media-media di luar negeri melakukan hal ini atau tidak. Apa salahnya mencoba? Tentu saja batasan peer review tersebut hanya pada artikel/berita yang berkaitan dengan teknologi/ilmu pengetahuan.

Bagaimana tanggapan pembaca?

Comments»

1. Sir Spitod - March 2, 2008

Ini ide bagus, sih. Tapi buat koran yang selalu kejar terbit setiap hari, cukup tidak ya, waktu dan juga biayanya..
Dan juga, kebanyakan artikel teknologi biasanya kan dibayar oleh perusahaan, biar produknya yang mendukung teknologi tersebut laku.
Mana mungkin dalam artikel mereka dibolehkan pembahasan tentang kelemahan teknologi tersebut?

Memang konsekuensinya berita yang diturunkan kuantitasnya berkurang, karena setiap artikel yang masuk mesti diperiksa dulu. Nah sekarang pilihannya kuantitas artikel.. atau kualitasnya. Majalah yang khusus membahas komputer sudah melakukan hal ini kok.. masih ingat uji produk di majalah CH*P kan?

2. atakeo - March 4, 2008

Salam jumpa. Saya lewati blok kamu gara-gara katamu di Padepokan Om Budi blokmu sepi. Jelas loh Mas.. Kamu bermukim di blok kaum elite. Wong pilihan. Anak Dewa bisa sekolah Tinggi. Anda orang yang menghargai sepi untuk mendapat inspirasi tinggi. Syukur saja. Tetapi tahukah Mas piramida sama seperti bangunan mesjid. Kubah gemerlap di ujung sana. Yang paling dasar pasir dan batunya. Tidak segemerlap kubahnya. Maukah Mas orat oret buat orang bawah. Mereka bersyukur dalam ketiadaan.
Maju terus mas. Mungkin buat Journal ilmiah saja. Kalau untuk masuk koran melewati saringan sejawat yang pakar, mungkin koran jadi bukan harian tetapi Mingguan atau bahkan Journal Banyak Bulan. Lalu kapan tayang?? Salam Mas.

Iya juga sih, saya cuman ingin mengekspresikan rasa prihatin saya terhadap masyarakat yang awam soal ilmu pengetahuan, setidaknya ini salah satu cara bagaimana saya mengekspresikannya, sambil berharap semakin hari, kualitas pers kita semakin bagus..

kasian pembaca, banyak diantaranya menelan mentah-mentah sumber informasi dari pers.

~salam kenal~

3. atakeo - March 5, 2008

Thank you for visiting my blog. I will be willingly to stop by at your blog later. Salam.

4. uwiuw - April 1, 2008

selan bersifat geenral, sy belum paham kegunaannya apa…tapi kalau memang akan memudahkan orang terjebak dalam polemik maka sy mendukung banget!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: