jump to navigation

Rethinks:Migrasi siaran TV dari Analog ke Digital March 8, 2008

Posted by Abdurahman in Opinion.
Tags: , ,
trackback

Seperti yang diberitakan DetikINET, Pemerintah Indonesia kini bersiap untuk bermigrasi dari sistem penyiaran Analog ke Digital. Uji coba dilaporkan akan dilaksanakan oleh TVRI tahun ini. Bahkan Pak Edy Setiadi, direktorat Teknik Penyiaran Publik TVRI mengatakan telah siap dengan Uji Coba yang sedang dilaksanakan.

Nah, untuk melihat manfaat dari migrasi ini, mari kita cari tahu, apa yang dimaksud dengan siaran digital (Digital TV).

Setelah mencoba mencari-cari sumber di internet, ternyata amerika juga sedang melakukan hal yang sama. Bahkan FCC Amerika memberikan deadline bahwa mulai tanggal 17 Februari 2009 seluruh siaran harus sudah beralih ke digital, bagi para pemirsa yang masih menggunakan analog TV, selama masih mempunyai “Video In” harus membeli decoder bila ingin menikmati siaran TV.

Buat yang belum tahu soal beda TV Digital sama Analog. Berikut Penjelasannya.

Televisi Digital(DTV) bisa untuk menerima dan mengirim suara dan gambar bergerak dengan cara digital, atau dengan kata lain, memungkinkan pemirsanya berinteraksi dengan saluran TV tersebut.

Karena metode broadcastnya menggunakan sistem digital ( pengirimannya memakai kode biner) maka diklaim mampu memberikan gambar yang lebih tajam dan suara yang lebih jernih. Metode ini mampu mengirim gambar mulai 1280 × 720 piksel/progressive scan (disingkat 720p) hingga 1920 × 1080 piksel/interlaced mode (disingkat 1080i). Siaran ini ditampilkan dalam rasio 16:9 (Mode Layar Lebar).

Sedangkan TV Analog mempunyai metode yang berbeda-beda, tergantung negara yang menggunakannya. Untuk Indonesia, metode yang digunakan adalah PAL.

Karena sistem digital memungkinkan penghematan frekuensi dari sistem analog(Karena siaran yang dikirim digitaltvtopology600berbentuk 1 dan 0). Maka dengan frekuensi yang sama, maka satu channel TV bisa memberikan beragam informasi secara bersamaan. Bahkan konten non-video seperti data, juga bisa dikirim dan diterima secara bersamaan oleh pemirsa. Hal ini membuka peluang jaringan internet lewat TV. Bandwidth yang disediakan mampu mencapai 2.5 MB/s (bandingkan dengan ADSL Speedy yang “cuman” 384Kbps). Tentu TV Digital menjadi lebih menarik daripada TV Analog.

Nah, sekarang yang menjadi masalah adalah kesiapan masyarakat kita. Apakah sudah siap dengan kehadiran teknologi ini. Mau tidak mau, pemirsa harus membeli dekoder dulu untuk bisa menikmati siaran ini, kecuali jika sudah memiliki TV yang bisa langsung menerima siaran Digital.

Mungkin kalau di kota besar seperti Jogja, Jakarta, Bandung, Surabaya masyarakatnya pelan-pelan bisa menyesuaikan diri. Bagaimana dengan daerah pelosok-pelosok di Indonesia? Apalagi yang memiliki TV yang sudah lama sekali, apa mereka bisa/mau membeli decoder kalau hidup sehari-hari mereka mengalami kesusahan?

Satu lagi yang perlu diperhatikan adalah kualitas acara yang diberikan stasiun TV kepada pemirsanya. Saya beranggapan bahwa kualitas acaranya sangat buruk. Banyak sinetron yang menceritakan kehidupan glamor, kawin-cerai, apalagi infotainment. Tentu kesiapan psikologis masyarakat juga harus disiapkan dalam hal ini. Saya juga berharap pemerintah memperhatikan hal-hal sepele seperti ini juga. Jangan sampai migrasi dari TV Analog ke Digital tidak membawa manfaat apa-apa atau malah membikin masyarakat kebingungan karena derasnya arus informasi yang diterimanya secara bersamaan.

Referensi :

http://en.wikipedia.org/wiki/Digital_television

http://en.wikipedia.org/wiki/Broadcast_television_systems

http://www.dtv.gov/

http://www.howstuffworks.com/dtv.htm

Comments»

1. ardianto - March 30, 2008

Jangan lah…
Berarti nanti harus ganti TV? TV saya jaman jadul euy, nggak ada “Video IN”-nya…

2. elhaidar - January 22, 2009

Mo tanya om, misalkan nih, aq sudah punya parabola di rumah, terus apa harus ganti juga pesawat tvnya, kan antena parabola itu digital juga.

Parabolanya mesti disambungin dulu di decoder om🙂, nah, dari AV-OUT nya decoder ntar masuk ke TV. jenis decoder tergantung dari tipe parabola. masih inget jaman astro kan? decodernya astro hanya bisa disambungin ke parabolanya astro doank.🙂

~Selamat mencoba~

3. Gatek - May 21, 2009

Sory,aku ini bukan teknolog, aku awam, gatek lagi, aku minta penjelasan ato jawaban sekali lagi, apakah TV yg kita pake sekarang ini TV Analog ato bukan. Kalau TV analog kita alih ke Digital apa perlu ganti TV ato cukup ditambahin alat bantu lainnya? Apakah pasar se Indonesia ini sudah nyiapin alatnya? berapa harganya? dsb.

Abdurahman - May 22, 2009

Enggak apa-apa kok mas gatek, bukankah kita semua ini akan terus mencari jawaban sampai akhir nanti..

Nah, TV yang kita gunakan sekarang, itu masih termasuk TV Analog, dilihatnya ya dari belakangnya kan kita masih menggunakan kabel antena yang biasanya ditaruh di genteng rumah..

kalau TV digital, kalau saudara pernah menggunakan jasa astro, indovision, kabel vision, nah itu baru masuk kategori digital. kalau kita menggunakan salah satu layanan diatas, kita kan mendapatkan alat yang mirip VCD Player dari mereka, alat itu yang dinamakan decoder..

semoga penjelasan saya membantu🙂

4. harto - December 8, 2009

Waah kalau saya malah gaptek kwadrat.
Tapi pengin pinter makanya saya boleh tanya ?
Konon Astro pakai Ku Band yang katanya lebih murah biayanya.
Trus apa bedanya dengan C Band ya……
Terima kasih.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: