jump to navigation

Gejala Apa? Tinjauan kritis terhadap web 2.0 di Indonesia November 13, 2008

Posted by Abdurahman in Opinion.
Tags: ,
trackback

Sejak dimulainya era web 2.0 dimana user dapat berkontribusi langsung melalui komentar, forum dan berbagai macam fitur interaktif lainnya. Saya mendapati “gejala” yang cukup aneh dari mayoritas masyarakat internet indonesia. Hal ini cukup memprihatinkan.

Banyak sekali komentar-komentar yang bernada negatif-skeptis, dan komentar yang malah cenderung Out Of Topic/diluar konteks. Seperti contoh dibawah ini :

Lindur @ Minggu, 28 September 2008 | 04:25 WIB
Bisakah pns berubah seperti itu?krn byk lpnd yg menghasilkan pnbp bagi negara.

Sumber : http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/27/01162348/only.the.paranoid.survive.the.intel.way

Coba perhatikan antara artikel dengan komentar yang diberikan. Sang penulis mencoba menjelaskan tentang bagaimana strategi intel sebagai perusahaan agar bisa survive. Penulis dengan keahliannya mencoba mendeskripsikan permasalahan yang dihadapi dan langkah yang ditempuh. Tulisan tersebut menurut saya mempunyai bobot yang sangat tinggi dan mempunyai nilai yang bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari.

Komentar yang diberikan tidak memberikan nilai tambah sama sekali terhadap artikel yang sudah ada. Bahkan malah merusak citarasa dan estetika artikel utamanya. Terus terang mood saya malah jatuh setelah membaca komentar tersebut. Apa hubungannya PNS sama Intel?

Yang lebih parah, komentar seperti ini banyak ditemui di berbagai forum yang notabene banyak orang indonesianya.

Contoh lainnya, saya yakin kalau pembaca cukup aktif mengikuti berbagai forum di dunia maya Indonesia akan mendapati banyak hal yang tidak sehat seperti ini. Saya mendapati di salah satu forum terbesar di Indonesia, ada thread tentang eksekusi trio bomber yang menghabiskan dana hingga 20 milyar. Penulis thread menjelaskan bahwa itu adalah hal yang memboroskan keuangan negara dan lebih baik uangnya diberikan saja kepada fakir miskin. Hal tersebut diikuti oleh berpuluh-puluh posting dibawahnya yang bernada sama. Seperti “iya setuju sama TS”, “wah pemborosan tuh, masih banyak rakyat miskin yang lebih membutuhkan”, dan berbagai macam posting lainnya. Padahal, eksekusi trio bomber -seperti yang kita ketahui bersama- dapat berpotensi mengacaukan keamanan nasional. Lihat saja ada peningkatan keamanan terhadap objek-objek vital di indonesia. Yang lebih penting lagi. Dana tersebut sudah dianggarkan jauh-jauh hari, tanpa mengurangi dana pendidikan, kesehatan, dan pos-pos penting lainnya. Sekali lagi terlihat ketidakdewasaan masyarakat internet kita.

Trus yang paling menarik. Pak Yusron Ihza Mahendra(Ketua Komisi I DPR-RI). Tanpa bermaksud untuk membela beliau. Sudah membuat langkah terobosan baru dengan menulis blog, sehingga masyarakat bisa langsung berinteraksi dengan beliau. Hal ini menurut saya sangat bagus sekali, karena selama ini ada gap yang cukup jauh antara rakyat dengan wakilnya. Pada postingan berjudul Anggaran Pertahanan: Minimum Essential Force, No!.   Beliau sudah menjelaskan menegaskan tentang penyetujuan anggaran untuk pengadaan sukhoi. Namun pada komentar dibawahnya masih saja ada yang mempertanyakan kapan anggaran sukhoi disetujui. Apa rakyat kita sudah sedemikian miskinnya sehingga untuk membaca dengan baik saja tidak bisa?

Belum lagi kalau ada hal-hal yang menyinggung isu sensitif, apalagi yang menyangkut SARA. Selalu masih ada saja tanggapan, padahal pembuat artikel memang bertujuan memancing di air keruh. Kontan saja caci maki berbagai agama dan ras terjadi secara bebas tanpa ada yang bisa mengendalikan. Bahkan moderator pun sampai kewalahan. Saya yakin sudah ada aturan yang menyatakan dilarang menanggapi artikel-artikel yang berkaitan dengan isu sensitif seperti itu. Saya mendapat kesan seolah-olah hal tersebut malah “nikmat” dan bisa “ejakulasi” kalau diteruskan. Nampaknya masturbasi otak lagi populer, apa gara-gara UU ITE sudah disahkan? Sehingga untuk mencari hal-hal yang bersifat merangsang semakin susah dicari?

Terakhir, setiap ada berita tentang dana keluar. Selalu saja ada yang sok peka terhadap rakyat kecil. Apa rakyat kita sudah sedemikian lemahnya? atau rakyat yang mana? Sekali lagi ada yang bermasturbasi dengan otaknya. Logika sederhana saja sudah cukup bahwa negara tidak mungkin memberi makan 3 kali sehari kepada setiap 200+ juta rakyatnya. Apa juga gara-gara jenis kelamin sistem ekonomi kita yang biseks (kapitalis dan sosialis dicampur aduk)? Hingga pada bingung semua mana yang pakai sistem kapitalis, mana yang sistem komunis?

Kalau jeli diperhatikan ternyata hampir semua komentar tersebut malah cenderung merendahkan diri sendiri. Bukti bahwa kita bangsa yang rendah.

Saya rasa, web 2.0 kalau seperti ini caranya belum cocok untuk diterapkan di Indonesia. Maaf kalau bernada provokatif. Saya hanya menyampaikan uneg-uneg saya yang dijamin oleh UUD ’45 juga.

Comments»

1. atrix - November 13, 2008

wah, kalo ada komentar yg gak nyambung dgnt topik biasanya saya hapus .. hehe

2. Abdurahman - November 13, 2008

komentar yang g nyambung hanya satu jenis dari berbagai jenis yang saya angkat. Tapi tetep saja itu gejala, mengingat banyaknya komentar yang sejenis.

3. latqueire - November 20, 2008

hmm

Sekali lagi ada yang bermasturbasi dengan otaknya. Logika sederhana saja sudah cukup bahwa negara tidak mungkin memberi makan 3 kali sehari kepada setiap 200+ juta rakyatnya. Apa juga gara-gara jenis kelamin sistem ekonomi kita yang biseks (kapitalis dan sosialis dicampur aduk)?

permasalahannya.. rakyat dibodohi dengan pemerintah.. kenapa harga barang selalu dikaitkan dengan dollar..?? bukankah barang2 di tanam di negara sendiri.. bukankah negara kita mampu memenuhi kebutuhan nya sendiri.. (jika saja hasil bumi tidak dijual ke negara lain)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: